Lirik Lagu Sinopsis Film Gaya Hidup
Blackberry LG Mobile Nokia Samsung Sony Ericsson
Klasemen L.Italia Klasemen L.Inggris Jadwal Liga Italia Jadwal Liga Inggris
Kare Kambing Pasar Turi
Handphone-PDA Elektronik komputer-Perangkat Lunak
jasa Rent Car jasa pembuatan website Jasa Fotografi jasa pembuatan desain grafis
Movie Musik movie Box office musik Terlaris
Saturday, October 16, 2010 | 11:20 PM | 0 Comments

Bersandar Hanya Kepada Allah

Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang
yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada ALLAH. Dengan
meyakini bahwa memang ALLAH-lah yang menguasai segala-galanya, mutlak,
tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan ALLAH, tidak ada satu
noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman ALLAH. Total, sempurna
segala-galanya ALLAH yang membuat, ALLAH yang mengurus, ALLAH yang
menguasai. 
Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, 
"Faalhamaha fujuu rahaa wa takwahaa", 
"Dan sudah diilhamkan dihati kita untuk mau berbuat memilih mana
kebaikan, mana keburukan". 
(QS. Asy Syamsi 91:8)
Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan kepada kita tinggal kita
memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu,
jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk orang yang berkelakuan
buruk dan terpuruk, bukan karena salah siapapun, kecuali diri kitalah
yang memilih menjadi buruk dan terburuk, naudzubillah. 
Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya hanya kepada
ALLAH mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk
menjadi sandaran baginya. Perhatikan saja, seseorang yang bersandar pada
sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan segera
terguling, akan jatuh terpelanting. Bersandar kepada sebuah kursi, dia
akan sangat takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yanga panik
dalam hidup ini adalah orang-orang yang bersandar kepada kedudukannya,
bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar
kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau
sandara-sandaran yang lainnya. 
Padahal semua yang kita sandari sangat mudah bagi ALLAH (mengatakan
"sangat mudah" juga ini terlalu kurang etis), atau akan "sangat mudah
sekali" bagi ALLAH untuk mengambil apa saja yang kita sandari. Namun,
andaikata kita bersandar hanya kepada ALLAH yang menguasai setiap
kejadian, "Laa khaufun alaihim walaahum yahjanun", kita tidak akan
pernah panik oleh apapun dan siapapun, insya-Allah. 
Jabatan diambil, tidak apa-apa, karena jaminan dari ALLAH tidak
tergantung kepada jabatan kita. Apa artinya kita diberi jabatan,
kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak
diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. Kita
lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita
bergantung pada kedudukan, jabatan, kita akan takut kehilangannya.
Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan
terkadang dengan menghalalkan segala cara.  Na'udzubillah. 
Tapi, sungguh bagi orang-orang yang bersandar hanya kepada ALLAH dengan
ikhlas, ah silahkan, buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak
mendekatkan diri kita kepada ALLAH, tidak membuat saya terhormat dalam
pandangan ALLAH. Tidak apa - apa jabatan kita kecil dalam pandangan
manusia, tapi besar dalam pandangan ALLAH karena kita dapat
mempertanggungjawabkannya dengan baik. Tidak apa-apa kita tidak
mendapatkan pujian, penghormatan, dari makhluk, tapi mendapat
penghormatan yang besar dari ALLAH SWT. Karena kita tidak akan terjamin
oleh kedudukan kita, percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta, tidak
sulit bagi ALLAH sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji
15 juta, tapi oleh ALLAH diberi penyakit seharga 16 juta, sudah pasti
tekor itu. 
Oleh karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada
tabungan. Sebab, punya tabungan uang, mudah bagi ALLAH untuk
mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengeluarkan
uang yang lebih besar dari tabungan kita. Demi ALLAH, tidak ada yang
harus kita gantungi selain hanya ALLAH saja. Punya Bapak seorang
pejabat, punya kekuasaan, mudah bagi ALLAH untuk memberikan penyakit
yang membuat bapak kita tidak bisa menandatangani apapun, sehingga
jabatannya harus segera digantikan. 
Punya suami gagah perkasa; otot kawat balung besi, leher beton, urat
kabel, wajah asbes. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan
bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi ALLAH membuat sang suami
muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan
'muntaber'. Atau tiba-tiba muncul bisul-bisul di ujung tangan dan
jarinya, mukul siapa kalau tangannya bisulan. Atau ALLAH mengirimkan
nyamuk Aides Aigypty yang betina, lalu menggigitnya sehingga menderita
demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang
lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang jago
beladiri karate misalnya.Siapapun yang gagah lalu petantang-petenteng,
dikirim saja oleh ALLAH bakteri atau virus, maka cukup untuk membuat
gigil dan takluk. Sungguh tidak ada yang bisa digantungi. Otak cerdas,
tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita, karena cukup dengan
kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala bagian
belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati. 
Semakin kita bergantung kepada sesuatu, semakin diperbudak kita oleh
sesuatu itu. Oleh karena itu, para istri jangan terlalu bergantung pada
suami. Karena suami bukanlah pemberi riski, suami hanya salah satu jalan
rizki dari ALLAH SWT, suami setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi
ke kantor, maka hendaknya istri menitipkannya kepada ALLAH. 
"Wahai ALLAH, Engkaulah penguasa suami saya, titip matanya agar
terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi
kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan
jatah rizkinya dalam keadaan barokah, tapi kalau tidak ada jatah
rizkinya, tolong diadakan yaa ALLAH, karena Engkaulah yang Maha Pembuka
dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal sholeh". 
Insyaallah suami pergi bekerja di-back up oleh doa sang istri,
subhaanallah. 
Ketika pulang ternyata, 
"Mi, tidak jadi kita dapat untung". 
"bi, kita sudah untung". 
"Mana abi tidak bawa uang?". 
"Niat sudah merupakan keberuntungan, bersimbah keringat, berkuah peluh,
merupakan keuntungan, apa yang kurang bi?" 
"Tapi mi, abi tidak berhasil dapat uang?" 
"Subhaanallah, uang itu nanti pasti ada di saat yang tepat. Apalah
artinya kita punya uang, kalau hanya akan menjerumuskan, tenang bi masih
ada stock beras". 
"Tapi kan tidak ada lauk pauknya" 
"Justru daging itu enak kalau jarang. Bayangkan kalau abi makan durian
setiap hari, pasti itu durian tidak akan enak lagi. Pasti ada hikmah,
tidak ada keburukan yang tidak mengandung kebaikan. Tenang bi" 
"Mamah tidak kecewa?" 
"Apa yang perlu dikecewakan, kewajiban kita hanya menyempurnakan niat
dan ikhtiar". 
Subhaanallah, demikian percakapan sebuah keluarga yang
bersungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada ALLAH saja. 
"Wa maa yatawakkal alallah fahua hasbu", 
"Dan barang siapa yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak,
tanpa ada lubang sedikit pun. Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada
ALLAH, bakal dicukupi segala kebutuhannya" (Q.S At Thalaq 65: 3). 
ALLAH Maha Pencemburu dan tidak suka hati hambanya bergantung kepada
makhluk, apalagi bergantung kepada benda-benda mati. Mana mungkin itu
terjadi, sedangkan setiap makhluk itu ada dalam genggaman dan kekuasaan
ALLAH. Kita bergantung kepada apa yang dikuasai ALLAH, padahal ALLAH
yang menguasai segala kejadian. 
Oleh karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan
penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin
banyak kecewa. Padahal, yang kita gantungi 

"Laahaula walaa quwwata illaa billah" 
(tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendah ALLAH).
Maka, sudah seharusnya hanya kepada ALLAH sajalah kita menggantungkan,
kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang
lain. 

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright Sarang Ilmu © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.