Penyebab jerawat bersifat multifaktor antara lain genetik, ras, hormonal, faktor makanan, iklim, keaktifan, kelenjar sebaseus, lingkungan kerja, psikis atau kejiwaan, bakteri, kosmetik, faktor trauma, dan beberapa faktor lainnya yang bersifat akan mempercepat dan memperberat munculnya jerawat.
Secara patofisiologi, terjadinya jerawat dipahami sebagai hasil keterlibatan empat faktor yaitu:
- Peran hormon androgen (hormon seksual) yang menstimulasi aktivitas kelenjar sebasea (kelenjar minyak) sehingga produksi minyak atau sebum pada kulit meningkat.
- Proses keratinasi (penumupukan sel-sel kulit mati) yang tidak normal yang menutupi folikel atau saluran dari unit polisebasea merupakan cikal bakal terbentuknya komedo.
- Proliferasi (pertumbuhan) dari bakteri propionibacterium acnes penyebab jerawat, dan terakhir
- Proses inflamasi atau peradangan pada unit pilosebasea.
Faktor Diet
Meskipun faktor diet jarang dianggap sebagai agen penyebab jerawat, namun diet dikaitkan dengan terjadinya hiperglikemia atau peningkatan kadar gula dalam darah baik secara mendadak atau perlahan (kronis), kondisi ini berpengaruh pada proses keratinisasi dan peran hormon androgen pada proses patofisiologi terjadinya jerawat.
Hasilnya studi terbaru dari American Journal of Clinical Nutrison pada Juli 2007 melihat pengaruh faktor diet atau nutrisi khususnya pada sisi glycemic load (GL) dalam menyebabkan jerawat. Glycemic index (GI) merupakan suatu sistem peringkat untuk menilai seberapa cepat glukosa atau gula dari suatu jenis makanan memasuki aliran darah, atau dapat dikatakan seberapa cepat karbohidrat dalam makanan dapat meningkatkan kadar gula darah.
Berbeda dengan GI, GL tidak hanya menilai seberapa cepat glukosa dari makanan memasuki peredarah darah, tetapi juga menilai seberapa banyak glukosa yang terkandung dari makanan tersebut sehingga GL lebih menilai secara keseluruhan. GL dinyatakan sebagai peringkat standar saji dari suatu makanan untuk dapat meningkatkan kadar gula darah. Makin rendah GL, makain kecil kemampuan makanan yang disajikan memicu peningkatan gula darah secara berlebihan.
Makanan dengan GL yang tinggi meningkatkan kadar gula dalam darah sehingga terjadi suatu kondisi hiperinsulinemia. Kondisi ini akan meningkatkan kadar IGF 1 (insulinlike growth factor) yang merangsang terjadinya jerawat lewat peningkatan proses keratinisasi pada folikel polisebasea dan stimulasi hormon androgen yang mengakibatkan produksi minyak atau sebum.
Jenis Makanan
Jenis-jenis makanan yang memiliki kadar GL tinggi biasanya ditemukan pada jenis makanan olahan seperti keripik jagung, coklat karamel batangan, cookies, waffles, cereal, permen, donat, dan lain-lain. Hasil penelitian menunjukkan pada minggu ke-12 jumlah jerawat pada penderita yang mengkonsumsi makanan dengan GL rendah menurun dibandingkan penderita yang makan tanpa memperhatikan GL ataupun GI. Makanan dengan GL rendah dapat dijadikan terapi penunjang yang potensial untuk mengurangi gejala jerawat.
Tips Mencegah Munculnya Jerawat :
- Bersihkan wajah menggunakan pembersih yang sesuai dengan jenis kulit 2 kali sehari. Setelahnya keringkan dengan handuk lembut secara perlahan.
- Hentikan kebiasaan buruk menyentuh wajah dan jerawat.
- Gunakan produk perawatan wajah yang noncomedogenic (tidak menyebabkan komedo) dan acnegenic (tidak menyebabkan jerawat).
- Gunakan sunblock (oil free) ketika berada diluar rumah. Jika aktivitas anda berada didalam ruangan, bersihkan sunblock setelah 2 jam pemakaian, kembali gunakan sunblock jika kembali beraktivitas diluar ruangan.
- Minum air putih yang cukup untuk menjaga kelembapan kulit.
- Makan makanan bergizi yang banyak mengandung antioksidan dan makanan yang mengandung glycemic load yang rendah seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. Hindari makanan yang terlalu manis, berlemak, dan pedas.
- Jangan merokok dan mengkonsumsi alkohol.
- Istirahat yang cukup, 6-8 jam dalam sehari.
- Olahraga yang teratur.
0 comments:
Post a Comment