Ulat itu masih melayang dalam kepompong yang belum juga usai terangkai. Kepompong yang masih belum utuh membalut tubuhnya dan menggodognya menjadi sosok yang jauh lebih cantik….
Ulat yang masih melayang, menggantung sambil terus menata asa akan masa depannya yang lebih bermakna. Dalam kepompong yang mulai berbalut mengering terurai angan dan bayangan bunga-bunga yang bermekaran. Bunga-bunga yang kan tumbuh semakin marak dengan bau yang kian semerbak atas rangkaian liukan tarian sayapnya.
Tiba-tiba terbenturlah sang kepompong pada ranting pohon tempatnya menggantungkan asa. Daun-daun kering berjatuhan menggoresnya. Angin kencang berusaha tuk menjatuhkan dan menghempas segala asa lepas.
Seketika kepedihan, ketakutan, keraguan menjerembabkannya ke dalam jurang keputusasaan yang dalam. Tanpa bisa berbuat apa jua, hatinya hanya mampu bersua dalam duka. Namun. harapnya tetap harus terbentang meski arang selalu melintang.
NB: “Alangkah indahnya hidup ini jika kita jalani dengan penuh perjuangan demi menggapai sebuah makna. Pantaskah kita menyerah sedangkan rengkuhan kasihNYA tiada terputus, bahkan pada seekor ulat….”
0 comments:
Post a Comment